Gue Andre Adityawarman Kusuma, lulusan BINUS tahun 2020 dari jurusan Hotel Management. Di BINUS, sistem NIM selalu diawali tahun masuk. Jadi walaupun gue mulai kuliah sekitar 2016-an, secara sistem gue disebut Binusian 2020. Angkatan gue ini bisa dibilang “angkatan uji coba” banyak sistem baru mulai diterapkan, dari urusan birokrasi SSC sampai kebijakan ekstrem soal ujian: Nyontek = DO. Sekarang udah hampir lima tahun sejak gue lulus, dan jujur aja, banyak hal yang gak sejalan sama yang dijanjikan waktu promosi kampus dulu. BINUS jualan image keren: kampus internasional, koneksi global, sistem belajar modern, dan peluang karier luas. Tapi begitu dijalani, yang “internasional” kadang cuma format PowerPoint dan brosur. Koneksi global? Lebih banyak jargon marketing daripada manfaat nyata. Banyak mahasiswa akhirnya cari magang sendiri karena bantuan kampus gak seefektif yang dikira.
Ekspektasi vs Realita
Awalnya gue pikir kuliah di BINUS bakal cepat, padat, dan jelas arahnya. Tapi ternyata, di BINUS gak ada sistem percepatan SKS. Kalau di kampus lain lo bisa ngebut lulus dalam 3 tahunan, di sini minimal 4 tahun. Bahkan bisa lebih lama kalau kena revisi laporan, nunggu nilai magang, atau muter di loop administrasi SSC. Jadi jangan harap bisa lulus lebih cepat aturan akademiknya udah dikunci rapat. Dan sekarang setelah jadi alumni, gue bisa bilang: apa yang dijual di awal gak sepenuhnya sesuai sama realita. Yang sukses abis lulus biasanya bukan karena sistem kampusnya, tapi karena koneksi pribadi atau orang tuanya. Jadi kalau lo berharap kuliah di BINUS langsung buka jalan karier di Indonesia, siap-siap kecewa. Dunia kerja pada kenyataannya gak peduli lo lulusan mana, yang mereka lihat cuma skill, attitude, dan kenalan. Kadang gue juga mikir, tulisan kayak gini bakal bermanfaat atau cuma tenggelam di antara ribuan opini mahasiswa atau alumni lain. Tapi gak apa-apa. Setidaknya ini suara dari seseorang yang beneran ngalamin, bukan sekadar denger cerita.Sistem “Nyontek = DO” dan Ketegangan di Kelas
Sebagai Binusian 2020, angkatan gue adalah yang pertama ngerasain aturan baru: sekali ketahuan nyontek, langsung DO. Masalahnya, definisi “nyontek” di sistem itu gak jelas. Pada Saat itu banyak mahasiswa ke-DO bukan karena beneran buka contekan, tapi cuma karena gerakan mencurigakan. Ada yang cuma nengok sebentar, geser posisi dikit, atau reflek ngelirik kertas langsung disangka mencontek. Yang paling gak masuk akal, waktu ada gempa bumi. Beberapa mahasiswa spontan keluar ruangan karena panik, dan tetap di-DO dengan alasan “meninggalkan ruang ujian tanpa izin.” Padahal HP mereka ditinggal di meja pengawas. Disiplin itu penting, tapi kalau sampai gak bisa bedain mana insting manusia dan mana pelanggaran, itu udah gak masuk akal. Waktu itu sempat juga beredar rumor kalau sistem ini bukan cuma buat jaga integritas, tapi buat "menertibkan" statistik akademik. Jadi banyak yang DO bukan karena nyontek, tapi karena kasus sepele: salah posisi tangan, ngelihat arah lain, bahkan karena ekspresi dianggap mencurigakan. Lucunya, mahasiswa yang bener-bener nyontek kadang malah lolos. Kesimpulannya? Lagi-lagi tergantung hoki.Drama SSC: Birokrasi yang Bikin Pusing
Puncak kekesalan gue ada di masa magang. Gue magang dua kali: di Hotel Ciputra Jakarta (semester 4) dan Hotel Mercure PIK (semester 7). Kedua-duanya tanpa gaji, full untuk pemenuhan kewajiban kuliah. Setelah magang selesai, gue kira tinggal submit laporan dan beres. Ternyata gak sesederhana itu. SSC BINUS (Student Service Center), yang katanya “one-stop solution,” justru terasa kayak labirin tanpa ujung. Format laporan udah gue ikutin dari font, spasi, log book, tanda tangan supervisor semua sesuai pedoman. Tapi tetap aja disuruh bolak-balik revisi, bahkan cuma karena hal remeh: cap gak penuh, tanda tangan dianggap ngasal, atau posisi margin melenceng 1 mm. Lucunya lagi, temen gue dengan format dan tanda tangan yang sama malah langsung diterima. Jadi ya... balik lagi ke faktor hoki. Di SSC, kadang yang bener bisa salah, dan yang salah bisa aja lolos. Birokrasinya terasa lebih kayak lotre akademik daripada sistem administrasi kampus modern. Capek? Udah pasti. Apalagi antriannya panjang, staf-nya sibuk, dan penjelasannya sering muter di “sesuai kebijakan” yang terasa seperti alasan seribu versi buat hal yang sebenarnya sepele.Kultur Mahasiswa dan Dosen
Program Magang: Antara Pengalaman dan Eksploitasi
Buat jurusan kayak Hotel Management, magang adalah bagian penting dari kurikulum. Tapi di lapangan, realitanya gak seindah janji di brosur. Banyak mahasiswa yang akhirnya jadi tenaga kerja gratis. Kerja full shift, lembur, bahkan gantiin staf tetap, tapi gak dapat bayaran sepeser pun. Ya, katanya sih “buat pengalaman,” tapi kadang terasa lebih kayak eksploitasi. Ada yang beruntung langsung direkrut setelah magang, tapi jumlahnya kecil banget. Sisanya, balik lagi ke kampus, revisi laporan, dan nunggu nilai. Padahal kerja kerasnya sama, tapi hasilnya beda. Lagi-lagi, hoki berperan besar.Pelajaran Hidup dari Sistem yang Ribet
Kalau ada satu hal yang beneran gue pelajari dari BINUS, itu bukan soal akademik, tapi soal bertahan hidup di sistem yang ribet. Gue belajar sabar di tengah birokrasi yang absurd, belajar komunikasi formal karena SSC bisa nolak dokumen cuma gara-gara satu baris gak sesuai format, dan belajar adaptasi di lingkungan yang kadang lebih sibuk dengan aturan daripada logika. BINUS mungkin gak ngasih semua yang dijanjikan brosur, tapi dia ngasih satu hal berharga: kalau lo bisa survive di sistem mereka, lo bakal bisa survive di mana aja.Kesimpulan
Kuliah di BINUS gak sepenuhnya buruk, tapi juga jauh dari kata sempurna. Ada hal-hal bagus: sistem digitalnya rapi, fasilitas lengkap, dosen-dosen profesional juga banyak. Tapi di sisi lain, ada bagian yang bikin mikir dua kali birokrasi SSC yang gak efisien, sistem ujian yang aneh, dan kultur kampus yang serba formal tapi kadang gak manusiawi. Akhirnya semua balik ke pribadi masing-masing. Kalau lo kuat mental, tahan sabar, dan punya sedikit keberuntungan, lo bisa keluar dari BINUS dengan kepala tegak. Kalau enggak, ya siap-siap frustrasi di tengah jalan. Yang penting, jangan telan mentah-mentah janji marketing kampus mana pun karena yang lo hadapi nanti bukan “branding,” tapi sistem yang nyata.
Tags:
Andre Adityawarman Kusuma
Andre Kusuma
backlog perumahan
Catatan Andre
gaya hidup minimalis
hunian layak
kebijakan pemerintah
kritik sosial
properti Indonesia
rumah 3x6
rumah ideal
rumah kecil
rumah subsidi