Efek Samping dari Jadi Diri Sendiri

Dosis Pil Pahit

Hidup kadang nggak kayak yang dibayangin orang lain. Buat gue, hidup adalah soal menelan pil pahit dan dosis gue kayaknya jauh di atas rata-rata. Capeknya? Jangan ditanya. Tapi gue masih bersyukur bisa berdiri dan jalan tiap hari 💪. Gue cuma bisa cerita permukaannya aja, sisanya biar jadi urusan hati dan waktu.

Seringkali, gue merasa kayak berjalan di atas panggung, dan semua orang jadi juri. Apa pun yang gue lakuin salah. Bukan salah sepele, tapi salah fatal seolah gue baru aja nyuri, ngerusak hidup orang, atau bikin dunia berantakan.

Padahal, gue cuma "jadi gue". Nggak ganggu siapa pun. Tapi mengapa mereka reaksinya selalu berlebihan, seolah keberadaan gue aja adalah masalah yang butuh permintaan maaf. Dan anehnya, orang kayak gini ada aja tiap hari 🙃.

Lama-lama gue belajar buat diem aja. Bukan karena kalah, tapi karena energinya habis buat ngeladenin omongan dan penilaian yang nggak pernah adil. Kadang lebih gampang bilang “iya” biar cepat selesai. Buat apa juga ngulang jawaban ke orang yang dari awal emang nggak mau denger? Yang paling lucu, semua pertanyaan mereka bisa ditebak, muter di situ-situ aja. Sampai akhirnya gue mikir, 'Percuma juga gue jawab, kan?' 🤷‍♂️

Babak Paling Menyakitkan

Oke, flashback sedikit. Waktu SMA, jujur, itu masa paling neraka buat gue. Rasanya apa pun yang gue lakuin selalu salah di mata orang lain dan biang keroknya ya guru sendiri, cuma karena gue nggak kasih “upeti”. Gue belajar serius, nggak nyontek, tapi malah difitnah dan dikritik habis-habisan. Gue nurut, gue coba baik, tapi malah makin ditekan. Ironisnya, yang nyontek dan nyari aman justru tenang-tenang aja. Sekolahnya pun aneh sekolah swasta, tapiiiiii sistemnya kayak pungli. Beberapa murid bisa naik kelas cuma karena rutin “bayar upeti” tiap minggu. Dan gue? Ya cuma bisa nelen aja semua ketidakadilan itu 😔.

Sampai akhirnya gue sempat melawan. Gue nggak masuk sekolah beberapa hari karena udah muak diperlakuin kayak gitu. Tau nggak, teman satu kelas nelponin gue, sekolah nelpon orang tua gue, bahkan waktu gue izin pakai surat sakit pun, kliniknya ditelepon buat mastiin gue beneran sakit apa nggak. Lucunya, cuma gue yang diperlakuin seketat itu murid lain nggak.

Setelah itu, gue balik sekolah, dan fine, gue nggak pernah bolos lagi. Tapi “hadiah” yang gue dapet? Setiap hari di kelas, guru ngata-ngatain gue di depan umum, dan gue cuma bisa cuekin 😶.

Tiap ujian pun selalu sama, kayak siklus yang nggak ada putusnya. Awalnya gue belajar, gue kerjain jujur, tapi nilainya tetap 0. Bahkan PR yang selalu gue kerjain dan jelas-jelas dapat nilai 7, 8, 9 (lengkap dengan tanda tangan guru di buku PR), pas terima rapot isinya 0 semua. Waktu gue tunjukin buktinya, mereka nggak ngakuin, malah bilang PR itu gue buat-buat nilai dan tanda tanganya.

Akhirnya gue mikir, “Ngapain juga gue usaha kalau ujungnya udah diatur nilainya?” Jadi gue iseng, gue nggak kerjain sama sekali. Eh, malah guru marah besar, meja gue digebrak, gue dikata-katain, dan dipanggil ke ruang kepala sekolah. Besoknya gue kerjain lagi (jujur), hasilnya? Ya tetap 0.

Karena udah keburu nanggung dan dicap jelek (semua gara-gara tiga guru biang kerok provokator yang awalnya cuma satu), gue pernah coba nyontek, tapi langsung diambil sama guru dan gue dimaki-maki habis-habisan. Kalaupun gurunya diem aja, nilainya juga tetap 0. Padahal murid lain, mau nyontek atau coret-coret tembok atau meja isi jawaban ujian, nilainya tetap tinggi, 9 atau 10. Semua nyontek di depan mata gue, tapi cuma gue aja yang diincar habis-habisan. Gerak salah, enggak masuk salah, semua jadi masalah wkwkwk...

Akhirnya, gue cuma bisa pasrah dan tidur aja di kelas tiap ujian. Tapi tau nggak? Kepala gue dijambak, dilempar ke tembok sekeras-kerasnya oleh oknum salah satu oknum guru. Jujur, saat itu gue pengin ngelawan, tapi langsung dipisahin sama teman-teman sekelas yang individualis dan cenderung egois. Anehnya, mereka menahan gue untuk tidak melawan, bukan membela gue. (Karakteristik kelas gue ini sangat berbeda dengan angkatan atas dan bawah yang justru sangat kompak.) Perlakuan ini malah bikin gue makin ngerasa sendirian. Dan yang paling parah sekaligus aneh, gurunya malah lari ke ruang kepala sekolah (pura-pura jadi korban🤣), dan ujung-ujungnya gue yang dipanggil ke sana buat disalahin lagi. Padahal gue udah jelasin semuanya. Waktu dilaporin ke yayasan pun, guru-gurunya kompak saling nutupin 💢.

Setelah sekolah, gue kira semua udah selesai. Tapi ternyata nggak. Meski gue BERHASIL mengambil jalur alternatif untuk ijazah karena sekolah menolak gue naik kelas, klimaks kekejaman itu justru terjadi setelah gue selesai dengan urusan sekolah formal.

Tekanan dari guru provokator di sekolah lama, yang bertanggung jawab membuat gue nggak naik, ternyata masih berlanjut. Mereka menggunakan adik kelas yang termakan hasutan sebagai alat. Oknum adik kelas ini terus-menerus memburu gue lewat media sosial, tujuannya cuma satu: memaksa gue kembali ke lingkungan toxic itu. Tentu gue muak, dan gue tahu pasti siapa dalang di balik semua ini.

Singkat cerita, situasi ini akhirnya memanas di luar kendali. Karena gue sempat mencoba meniru gaya provokator yang menekan, keadaan jadi berbalik. Gue kemudian diserang oleh sekelompok besar massa yang merupakan adik kelas yang termakan hasutan. Ini bukan lagi bullying biasa, rasanya seperti adegan klimaks film thriller yang dibawa ke kehidupan nyata. Parahnya, gerombolan ini dipimpin oleh seorang adik kelas yang memegang kendali atas komunitas tertentu di lingkungan rohani (ironisnya, tempat yang seharusnya damai). Insiden ini bahkan menyeret gue ke titik di mana gue dihadapi banyak orang secara langsung tanpa bantuan siapa pun bahkan sampai ke rumah. Dari situ gue sadar, ternyata masalah nggak berhenti cuma karena lo udah lulus atau udah berusaha sebaik mungkin. Masih aja ada yang nyerang lewat media sosial, nyebar omongan, dan bikin gue muak sendiri.

Oh iya, satu hal penting lagi. Kalau bicara soal keyakinan, gue percaya Tuhan itu ada. Tapi gue sudah memilih untuk nggak lagi terikat dengan institusi agama formal. Gue merasa lebih nyaman menjalani hubungan spiritual yang sifatnya personal.

Kenapa? Karena semua cerita yang baru aja gue bagi. Trauma gue lahir dari situ. Gue melihat sendiri dengan mata kepala gue bagaimana agama disalahgunakan.

Gue ngelihat gimana oknum adik kelas bisa pakai "lingkungan rohani" mereka sebagai "bekingan" untuk memobilisasi massa, ngeroyok, dan neror gue sampai ke rumah; mereka pakai agama sebagai tameng dan alat buat menekan orang lain. Puncak ironi dan kemunafikan yang gue lihat, atau "topeng"-nya, adalah fakta bahwa salah satu oknum guru provokator di sekolah yang ikut ngefitnah dan ngehancurin gue, adalah seorang pembuka agama. Figur yang harusnya jadi panutan moral tertinggi, perilakunya justru kayak gitu.

Selain itu, gue juga muak lihat agama dijadikan "alat duniawi". Dulu di masa ini, gue juga sering lihat sendiri di tempat ibadah, orang-orang bukannya ibadah malah jualan asuransi, yang seharusnya tempat itu untuk melayani Tuhan. Mereka pakai agama cuma buat jualan, cari koneksi, cari bekingan atau cari duit. Spiritualitasnya hilang, yang ada cuma kepentingan pribadi.

Jadi, ya, gue muak bukan sama Tuhannya. Gue muak sama perilaku manusia yang berlindung di balik agama. Trauma itu bikin gue menarik garis: gue memisahkan keyakinan personal gue (percaya Tuhan) dari praktik agama formal yang gue lihat isinya penuh manipulasi dan hipokrisi.

Dunia Kuliah: Gosip dan Ancaman

Memasuki dunia kuliah, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, urusan akademik terasa jauh lebih ringan; saya akhirnya bebas dari "neraka" sekolah dan siklus nilai nol yang absurd itu. Namun di sisi lain, tekanan dari masa lalu ternyata masih membayangi, dan lingkungan sosial yang baru pun tidak sehangat yang dibayangkan.

Gosip tentang saya di luaran justru makin menjadi-jadi, dan ironisnya, itu bertahan dari semester satu hingga semester delapan. Rasanya benar-benar seperti John Wick, terus-menerus dikejar rumor dan haters. Puncaknya, bahkan sampai ada niat untuk main keroyokan dari adik kelas. Yang saya tidak habis pikir, mengapa mereka bisa begitu membela mati-matian para guru itu dan menelan mentah-mentah semua omongan mereka? Apa alasannya? Entah murni karena iri atau ada motif lain, hanya mereka yang tahu 🙄.

Dan kayak efek domino, satu fitnah bisa nyebar jadi seribu. Orang-orang yang bahkan nggak kenal gue ikut nimbrung, nambah-nambahin cerita seolah mereka tahu segalanya.

Rasanya kayak digonggongin anjing dari segala arah, padahal gue cuma jalan lurus-lurus aja. Lucunya, makin gue diem, makin keras gonggongannya. Tapi yaudah lah, biarin aja karena kalau gue ladeni satu-satu, bisa-bisa gue jadi kayak mereka juga 🫤.

Lama-kelamaan saya bukan cuma capek, tapi juga muak. Saya memilih diam bukan karena takut. Saya hanya sadar bahwa jika terus diserang, kesabaran seseorang ada batasnya. Kalau sudah kelewatan, wajar jika akhirnya saya membalas.

Dunia Kerja

Masuk ke dunia kerja pun nggak berarti semua beres. Dalam 4 - 5 tahun terakhir, gue ngalamin sendiri betapa keras dan kotornya realita. Komisi pernah disikat atasan yang levelnya udah managerial ke atas nggak peduli seberapa keras lo kerja, ujungnya bisa aja hak lo diambil mentah-mentah. Lebih parahnya lagi, setelah itu malah gue yang dituduh bawa kabur duit, padahal nggak sama sekali. Wkwkwk… lucu sih, Gue sampe ngakak sendiri, antara kesel, capek, dan pengin bilang: yaudah, sekalian ambil aja semuanyaaaaa 😅.

Di tempat lain, gue ngalamin hal serupa. Komisi hasil jualan Property disikat juga, kali ini sama admin yang kekuatannya hampir setara owner. Tinggal tunjuk orang, posisi siapa pun bisa langsung tumbang bahkan level General Manager sekalipunn, termasuk gue. Ironisnya, orang kayak gitu juga makan komisi gue tanpa rasa bersalah dan tetap dipuja di kantor kayak pahlawan 🤦‍♂️.

Gue juga pernah bantu seseorang dari nol, ngenalin dia ke industri yang gue jalanin, tapi akhirnya dia malah nusuk dan ikut ngebela orang-orang yang dulu ngebully gue di kantor. Parahnya lagi, waktu gue dapet konsumen pribadi dari Instagram, haters gue (termasuk si pembully ini) malah nuduh kalau gue “ngambil” konsumen orang lain. Padahal gue punya bukti chat langsung antara gue dan konsumen itu jelas banget siapa yang mulai duluan dan gimana prosesnya. Tapi tetep aja, gue yang disalahin dan dijadiin kambing hitam.

Cerita soal si pembully ini emang panjang. Dulu, gue sempat ada urusan sama dia soal ambil konten sebarangan. Dia peringatin gue keras, dan gue turutin. Gue udah minta maaf. Tapi bukannya dimaafin, dia malah ganggu gue tiap hari, nyebar fitnah, dan bikin laporan palsu yang nggak sesuai kenyataan.

Gambaran singkatnya: gue udah kasih apa maunya (Hapus semua konten), Akhirnya gue inisiatif membuat konten sendiri tapi dia malah mempermasalahkan semuanya tanpa alesan yang jelas. Puncaknya, foto gue sendiri  hasil dari kamera gue sendiri aja dibilang konten miliknya. Setelah gue pikir-pikir, ini orang kayaknya cuma mau "nguasain kue". Cuma dia aja yang boleh main di situ. Ada aja sih modelan kayak gini di properti, nggak heran. Wkwkwkwkwkw.

Emang paling gampang nyari kambing hitam, dan kayaknya muka gue udah langganan jadi target. 🤣

Luka, Tawa, dan Ketenangan

Dari semua itu, gue cuma bisa bilang satu hal: hidup ini berat. Mungkin dosis masalah gue lebih tinggi dari kebanyakan orang. Tapi gue masih di sini. Masih bisa mikir jernih, bisa ngontrol langkah sendiri, dan masih berusaha bertahan walau capeknya nggak main-main 💭.

Jujur aja, hidup gue nggak semuanya kelam. Ada juga senangnya, walau kadang cuma sebentar. Tapi kalau ditimbang, mungkin 80 persen kurang lebih tetap lebih banyak sedihnya. Dan anehnya, dari semua itu, gue masih bisa ketawa. Kadang gue mikir, mungkin semua ini cara semesta ngajarin gue buat nggak lagi nyari validasi dari siapa pun. Karena pas lo udah bener-bener sendirian dan tetap bisa berdiri, lo bakal sadar: lo nggak butuh tepuk tangan siapa pun buat terus jalan.

Hidup nggak butuh pembuktian ke semua orang. Kadang cukup buktiin ke diri sendiri, bahwa lo masih bisa senyum meskipun isinya luka semua. Karena kalau dipikir-pikir, nggak semua perang harus dimenangkan ada yang cukup lo tinggalin aja biar lo nggak ikutan hancur.

Dan dari semua ini, gue belajar satu hal: nggak semua orang bakal ngerti, tapi itu nggak apa-apa. Selama lo tahu siapa diri lo, dan lo masih bisa tidur nyenak tanpa nyakitin siapa pun, berarti lo masih di jalur yang bener. Kadang kemenangan terbesar justru pas lo milih buat tenang, bukan balas.

Pada akhirnya, hidup itu cuma lelucon panjang. Entah kita yang ketawa, atau kita yang gila duluan 🤣

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
© Andre Adityawarman Kusuma. All rights reserved.